Agen Taruhan Terbaik – Timnas Inggris kembali menjadi salah satu kandidat terkuat untuk meraih gelar juara Piala Dunia 2026. Kehadiran pelatih asal Jerman, Thomas Tuchel, di kursi kepelatihan semakin meningkatkan optimisme publik sepak bola Inggris yang telah lama menantikan trofi dunia pertama sejak 1966.
Dukungan terhadap peluang The Three Lions kali ini datang dari mantan gelandang tim nasional Jerman, Steffen Freund. Pria yang pernah memperkuat Borussia Dortmund dan Tottenham Hotspur tersebut menilai Inggris memiliki peluang lebih besar dibandingkan Jerman untuk menjuarai turnamen sepak bola terbesar di dunia itu.
Menurut Freund, salah satu faktor utama yang membuat Inggris lebih diunggulkan adalah kedalaman skuad yang dimiliki. Ia menilai kualitas pemain Inggris saat ini sangat merata di hampir semua lini, sehingga memberikan banyak pilihan bagi Tuchel dalam menyusun tim terbaiknya.
Dalam beberapa tahun terakhir, Inggris memang terus menunjukkan perkembangan positif. Mereka berhasil mencapai semifinal Piala Dunia 2018, final Euro 2020, perempat final Piala Dunia 2022, dan final Euro 2024. Konsistensi tersebut membuat Inggris selalu masuk dalam daftar favorit setiap kali tampil di turnamen besar.
Freund menilai kondisi tersebut sangat berbeda dengan yang dialami Jerman. Meski masih berstatus sebagai salah satu kekuatan tradisional sepak bola dunia, Der Panzer dinilai belum memiliki kedalaman skuad sebaik Inggris saat ini.
“Mereka jelas memiliki peluang lebih besar untuk memenangkan Piala Dunia dibandingkan Jerman,” ujar Freund.
Ia menjelaskan bahwa persaingan untuk masuk ke dalam skuad Inggris jauh lebih ketat dibandingkan tim nasional Jerman. Banyak pemain berkualitas yang berpotensi gagal masuk daftar akhir meskipun tampil impresif bersama klub masing-masing.
“Semua orang di Inggris harus menyadari bahwa sangat sulit bagi Tuchel untuk membuat keputusan akhir mengenai 26 pemain karena Inggris memiliki jauh lebih banyak pilihan pemain,” lanjut Freund.
Menurutnya, perbedaan kualitas dan jumlah pemain yang tersedia membuat tantangan yang dihadapi pelatih Inggris jauh berbeda dengan pelatih Jerman.
“Kami masih banyak berdiskusi di Jerman mengenai beberapa pemain. Misalnya apakah Matthias Ginter atau Said El Mala layak masuk skuad. Namun, bagi Thomas Tuchel, situasinya jauh lebih sulit karena banyak pemain berkualitas yang bersaing untuk posisi yang sama,” katanya kepada KSOKLUB.
Meski memberikan penilaian positif terhadap kekuatan Inggris, Freund juga mengingatkan adanya satu faktor yang berpotensi menghambat langkah The Three Lions dalam perburuan gelar dunia. Faktor tersebut bukan terkait kualitas pemain maupun taktik, melainkan kemampuan pelatih dalam menjaga keharmonisan tim selama turnamen berlangsung.
Piala Dunia dikenal sebagai kompetisi yang menuntut para pemain dan staf bekerja bersama dalam waktu yang cukup lama. Tim yang melangkah hingga partai final dapat menghabiskan waktu enam hingga tujuh pekan dalam satu lingkungan yang sama. Situasi tersebut sering kali menjadi ujian tersendiri bagi pelatih dalam mengelola karakter pemain yang berbeda-beda.
Freund menilai Tuchel memiliki kualitas taktik yang tidak diragukan lagi. Namun, berdasarkan pengamatannya selama karier sang pelatih di Bundesliga dan Premier League, ada kalanya Tuchel menghadapi tantangan dalam membangun hubungan personal dengan para pemain.
“Dari sudut pandang Jerman, saya berharap mereka tetap bersatu sebagai tim. Jika ada satu kelemahan yang pernah terlihat dari Tuchel, itu adalah ia terkadang sedikit kesulitan dalam menangani pemain secara individu,” ujar Freund.
Komentar tersebut mengacu pada beberapa pengalaman Tuchel selama menangani klub-klub besar Eropa. Meski sukses meraih berbagai trofi bergengsi, termasuk Liga Champions bersama Chelsea, hubungan antara Tuchel dan sejumlah pemain terkadang menjadi sorotan.
Freund bahkan membandingkan pendekatan Tuchel dengan Vincent Kompany yang kini menangani Bayern Munchen. Menurutnya, Kompany menunjukkan kemampuan yang lebih baik dalam membangun komunikasi dan hubungan dengan para pemain.
“Dalam hal itu, Anda bisa merasakan bahwa Kompany melakukan pekerjaan yang lebih baik di Bayern Munchen dibandingkan yang dilakukan Tuchel,” lanjutnya.
Ia menegaskan bahwa aspek manajemen pemain menjadi sangat penting dalam turnamen sekelas Piala Dunia. Tidak semua pemain akan mendapatkan menit bermain yang diinginkan, sehingga kemampuan pelatih menjaga suasana ruang ganti menjadi faktor penentu keberhasilan tim.
“Aspek ini sangat penting di Piala Dunia karena Anda bisa bersama selama enam atau tujuh minggu jika mencapai final. Tidak mudah ketika semua 26 pemain ingin bermain,” kata Freund.
Sementara itu, Inggris akan memulai perjalanan mereka di Piala Dunia 2026 dari Grup L. The Three Lions tergabung bersama Kroasia, Ghana, dan Panama. Di atas kertas, Inggris diunggulkan untuk lolos ke fase gugur, namun mereka tetap harus menghadapi tantangan berat sejak pertandingan pertama.
Laga pembuka melawan Kroasia pada 17 Juni di Texas diprediksi menjadi ujian awal yang sangat menentukan. Kroasia memiliki pengalaman panjang di turnamen besar dan beberapa kali berhasil menyulitkan Inggris dalam kompetisi internasional.
Hasil pertandingan tersebut diyakini akan memberikan gambaran awal mengenai kesiapan skuad asuhan Thomas Tuchel dalam menjalani turnamen. Kemenangan atas Kroasia dapat menjadi modal penting untuk membangun kepercayaan diri sekaligus memperbesar peluang finis sebagai juara grup.
Di sisi lain, Jerman akan memulai perjuangan mereka di Grup E bersama Curacao, Pantai Gading, dan Ekuador. Juara dunia empat kali itu dijadwalkan menghadapi Curacao pada pertandingan pembuka yang berlangsung di Houston pada 14 Juni.
Dengan kualitas pemain yang melimpah dan pengalaman Thomas Tuchel di level tertinggi sepak bola Eropa, Inggris memang memiliki alasan kuat untuk bermimpi mengakhiri penantian panjang mereka. Namun, seperti yang diingatkan Steffen Freund, keberhasilan di Piala Dunia tidak hanya ditentukan oleh kualitas individu, melainkan juga kemampuan menjaga persatuan tim sepanjang perjalanan menuju final.
Jika Tuchel mampu mengatasi tantangan tersebut, peluang Inggris untuk mengangkat trofi Piala Dunia 2026 akan semakin terbuka lebar. (ss)


