Performa di penyisihan grup EURO 2016 bikin Kroasia optimistis menjalani pertandingan babak perdelapan final. Mereka yakin bisa mengalahkan Portugal.
Kroasia melaju ke babak perdelapan final Piala Eropa 2016 usai finis menjadi juara Grup D. Mereka tidak tertaklukkan di babak penyisihan grup. Di laga pertama babak fase grup, mereka berhasil mengalahkan Turki dengan skor akhir 1-0, kemudian di laga kedua mereka bermain seri 2-2 melawan Republik Ceko dan di laga terakhir atau disebut laga ketiga penyisihan grup, mereka sukses menaklukkan Spanyol dengan skor akhir 2-1.
Kroasia berikutnya akan bertemu dengan Portugal di babak perdelapan final Piala Eropa 2016 yang akan berlangsung di Lens, Sabtu (25/6). Sementara itu, Portugal melaju ke 16 besar usai menjadi salah satu dari empat tim posisi ketiga terbagus.
Portugal dan Kroasia sebelumnya pernah berjumpa sebanyak tiga kali. Di tiga laga perjumpaan kedua tim itu, Portugal berhasil memenangi ketiga pertandingan dengan kemenangan, termasuk kala menaklukkan Kroasia dengan skor akhir 3-0 di EURO 1996.
Akan tetapi, Kroasia kini sedang on fire dan berada di jalur bagus. Mereka tidak tertaklukkan dari 10 laga pamungkas.
“Kami sudah memasuki babak 16 besar Piala Eropa 2016 dan akan berhadapan dengan Portugal. Kami pikir tak ada lawan gampang di babak ini, semuanya tangguh-tangguh. Tapi kami sempat berada di grup sulit dan kami sukses melaju dengan finis sebagai juara grup. Maka itu kami punya keyakinan diri yang sangat kuat untuk menjalani laga hari Sabtu mendatang,” ungkap manajer Kroasia, Ante Cacic.
“Kami tahu Portugal punya beberapa pemain krusial, salah satunya adalah Cristiano Ronaldo. Mereka memang tim yang sulit dikalahkan, tapi bukan berarti kami sudah takut dan kami malah yakin bisa mengalahkan mereka di turnamen kali ini. Apalagi sudah ada bukti di tiga laga terakhir Portugal selalu ditahan imbang oleh lawan-lawannya. Jadi kami sudah siap dan yakin bisa menang di laga melawan Portugal,” sambungnya.
“Saya tidak akan meminta para pemain kami untuk memberikan perlawanan ketat terhadap Ronaldo. Saya cuma berharap para pemain kami bisa tampil seperti di laga kontra Spanyol, di mana laga ini berakhir dengan kemenangan untuk kami. Kami punya catatan bagus dan kami harus bisa mempertahankannya,” tandasnya.
Di samping ini ada tambahan berita lainnya, pelatih timnas Italia Antonio Conte menyebut timnya tidak seharusnya takluk dari Republik Irlandia. Secara performa, seri digadangnya akan sebagai hasil yang cocok untuk kedua tim.
Italia menelan kekalahan 0-1 ketika menghadapi Irlandia di pertandingan yang digelar di Stade Pierre-Mauroy, Kamis (23/6) dinihari WIB tadi. Sebuah gol Republik Irlandia ditentukan oleh Robbie Brady di menit ke-85.
Melawan Irlandia yang perlu menang untuk menjaga peluang melaju ke babak 16 besar Piala Eropa 2016, Italia awalnya sempat terlihat berat menghadapi lawan yang bermain menyerang.
Statistik mencatatkan bahwa Italia hanya bisa melepaskan lima tendangan dan cuma satu yang mengarah ke gawang. Sementara Republik Irlandia memiliki 12 tembakan dan empat di antaranya tepat sasaran.
Gli Azzurri tidak bisa memanfaatkan banyak kans untuk merobek jala Republik Irlandia. Beberapa kans yang didapatkan Simone Zaza dan Ciro Immobile hampir saja meluncur ke jala lawan. Seusai pertandingan ini, Antonio Conte merasa timnya tidak layak kalah.
“Kami tahu Republik Irlandia bermain bagus, tapi kami juga bermain oke. Jadi saya lihat kami tidak seharusnya kalah di pertandingan ini dan harusnya skor selesai dengan imbang,” ujar Conte.
“Irlandia butuh menang dan mereka terus menyerang. Kami sudah bermain bertahan dengan baik dan kami sudah mencobanya untuk menahan serangan mereka. Bahkan kami tidak menurunkan para pemain inti di pertandingan ini, tapi pada akhirnya atau tepatnya di menit ke-85, gawang kami malah kecolongan,” lanjutnya.
“Maka itu saya pikir kami tak pantas kalah, seri hasil akhir yang lebih cocok karena kedua tim bermain cukup imbang,” kata pelatih yang akan menangani Chelsea musim depan.
Italia bermain dengan skema permainan tidak sama di pertandingan ini. Mereka mengistirahatkan banyak pemain pilar seperti, Graziano Pelle, Gianluigi Buffon, Giorgio Chiellini, Daniele de Rossi, Marco Parolo, Emanuele Giaccherini dan Eder. Pemain pelapis kedua pun diberikan kesempatan tampil sebagai starter seperti Ciro Immobile, Salvatore Sirigu, Angelo Ogbonna, Thiago Motta, Stefano Sturaro, Federico Bernardeschi dan Simone Zaza. Conte pun merasa senang dengan upaya yang dilakukan pemain-pemainnya di pertandingan itu.
“Para pemain muda dan para pemain pelapis yang tampil di menit pertama sudah bermain bagus. Saya cukup puas dengan performa yang ditunjukkan para pemain kami di pertandingan ini.”
Di bawah ini ada tambahan berita lainnya.
Tottenham Hotspur memperoleh pemain anyar perdananya di jendela transfer musim panas ini. Spurs baru resmi mendatangkan Victor Wanyama dari Southampton.
“Tottenham Hotspur secara resmi mengonfirmasi sudah mendapatkan Victor Wanyama dari Southampton di bursa transfer musim panas ini,” tulis keterangan resmi di websitenya.
Wanyama yang kini berusia 24 tahun sudah meneken kontrak baru dengan pihak The Lilywhites selama lima tahun, yang artinya sang pemain akan bertahan di klub yang bermarkas di White Hart Lane hingga tahun 2021 mendatang. Pemain internasional Kenya tersebut didatangkan Spurs dengan nilai transfer sekitar 11 juta poundsterling.
Bersama Spurs, Wanyama kembali bekerja sama dengan pelatih Mauricio Pochettino. Pochettino merupakan pria yang merekrut Wanyama dari Celtic ke Southampton di tahun 2013 silam.
Kehadiran Wanyama bakal bikin Pochettino memiliki banyak opsi di posisi barisan tengah, usai musim silam hanya ada Mousa Dembele dan Eric Dier.
“Saya tentu sangat senang bisa dilatih lagi oleh Mauricio Pochettino. Dia seorang pelatih berpengalaman dan cerdik dalam mengajar para pemain. Saya jadi tak sabar ingin segera dibesutnya lagi,” kata Wanyama.
Wanyama hengkang ke Eropa di tahun 2007 silam kala menjadi pemain Helsingborg di Swedia. Tidak lama kemudian, dia berangkat ke Belgia untuk melanjutkan kariernya dengan bergabung ke Beerschot AC.
Waynama kemudian melanjutkan kariernya ke Skotlandia dengan bergabung ke Celtic di tahun 2011 lalu. Selama memperkuat Celtic, dia ikut membantu tim meraih dua trofi Liga Skotlandia dan satu gelar Piala Skotlandia. (As)

