Selalu ada yang pertama kali dan permulaan untuk semua hal. Pertama kali bersekolah, pertama kali membuat SIM, pertama kali mendapat KTP, pertama kali turut berpartisipasi sebagai pemilih dalam pemilihan umum, pertama kali bermain egrang, pertama kali jatuh cinta, pertama kali pacaran, pertama kali menikah, pertama kali bercerai, pertama kali membelikan hadiah tak ternilai bagi kekasih atau siapapun yang disayangi, pertama kali menyetir kendaraan bermotor sendiri di jalan protokol, pertama kali memegang komputer, pertama kali bekerja di suatu perusahaan swasta atau instansi pemerintah, pertama kali berwirausaha, pertama kali menonton film laga atau drama romantis, pertama kali mengikuti seminar, pertama kali berbicara di podium di depan umum, pertama kali pergi ke luar kota, pertama kali berkunjung ke luar negeri, pertama kali membeli rumah atau kendaraan pribadi atau aset-aset lain dengan uang sendiri, dan lain-lain yang tidak ada habisnya jika diteruskan. Semua berawal dari pemula dan berakhir di spesialis. Dari pemula menjadi spesialis tentunya membutuhkan perjalanan yang panjang dan berliku terkadang menanjak dan sebaliknya, menurun. Namun pastinya, semua ada prosesnya agar seseorang bisa menguasai sesuatu hingga dikenal sebagai seorang ahli di bidangnya. Kunci utama adalah belajar, baik dengan mengamati—dari jauh maupun dekat—atau mengalami secara langsung.
Di segala bidang, tak terkecuali di dunia perjudian, semua orang pun pernah mengalami pertama kalinya terjun langsung, entah hanya sebagai pengamat atau langsung menjadi pemain walau belum mengerti apa pun. Bagi mereka yang pertama kali menggeluti dunia judi—baik yang baru menjadi penonton saja atau sudah bernyali menjadi pemain—segalanya pasti terasa asing serta membingungkan hingga bahkan ada hal-hal yang tidak bisa dipahami dan tidak masuk akal. Tidak mungkin seseorang yang tidak pernah mengetahui apa itu permainan poker atau 21, misalnya, langsung “nimbrung” begitu saja untuk bermain di suatu kasino. Setidaknya ia pasti mencari tahu bagaimana caranya bermain poker atau 21, atau yang lainnya, setelah itu berusaha memahami teknik agar bisa menang. Hal ini berlaku juga dengan bertaruh di perjudian bola yang kian hari kian marak dan makin banyak peminatnya. Seseorang yang masih awam bisa saja bertaruh berdasarkan intuisi tanpa memiliki pengetahuan apa pun mengenai Pasaran taruhan bola, dan bisa saja mendapatkan keuntungan—semata karena kemujuran belaka—yang hasilnya belum tentu optimal. Membaca Pasaran taruhan bola ada seninya tersendiri, tidak bisa ditranslasikan secara gamblang, karena membutuhkan keahlian mengamati dalam prosesnya dan tidak bisa sekadar bertaruh begitu saja. Walau mungkin bisa saja mengandalkan kenekatan untuk bertaruh pada tim mana saja, secara asal-asalan memilih taruhan, tapi hasilnya belum tentu baik. Hal ini dilakukan dengan menjadi pengamat jagat sepak bola terlebih dahulu. Ini semata demi meraih kemenangan dengan jumlah uang yang besar.
Memutuskan untuk bermain judi bola setelah sebelumnya hanya menjadi pengamat dan pembelajar hingga kemudian sampai memahami Pasaran taruhan bola sama seperti menjadi detektif partikelir amatir yang memata-matai target sampai mengetahui kebiasaan terkecil si target yang mungkin cukup remeh-temeh seperti misalnya kesukaan target untuk mengibaskan rambut, memperbaiki posisi duduknya, dan seterusnya. Dalam judi bola, bila ingin berhasil dan memenangkan ganjaran tiada ternilai, pahami seluk-beluk tim yang ingin dijagokan, serta tim lawannya. Semua rekam jejak kemenangan dan kekalahan, hingga ke personal masing-masing atlet dan pelatih sampai manajernya. Tentunya semua itu akan membantu hingga mudah dalam membaca Pasaran taruhan bola. Pasaran taruhan bola tidak akan berhasil dengan istimewa bila pemain sekadar bertaruh dan tidak paham artinya.

